oleh

KPPPA Terus Beri Dukungan kepada Seluruh Pihak untuk Dalami Kasus Orang Tua Mencukil Mata Anak Kandungnya

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) memberikan dukungan kepada seluruh pihak untuk mendalami kasus orang tua mencungkil mata anak kandungnya akibat diduga ritual pesugihan yang terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel). Penulusuran kasus kekerasan pada anak ini harus tuntas.

Deputi Perlindungan Khusus Anak KPPPA, Nahar mengatakan, penelusuran kasus yang dilakukan diharapkan dapat memberikan gambaran jelas mengenai motif kekerasan tersebut, sehingga solusi perlindungan anak dapat diberikan tepat sasaran.

“Kami terus memantau dari Jakarta. Tentu di Gowa ada pemerintah daerah, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) yang menjadi kepanjangan tugas dan fungsi kami di daerah dan pemerintah provinsi sudah memberikan dukungan karena dari sisi pengobatan terus berjalan,” kata Nahar dalam keterangan pers diterima Beritasatu.com, Rabu (8/9/2021).

Baca Juga  Hasil Pilihan gubernur Sumatra Barat Digugat Ke MK

Ia menambahkan, kasus tersebut tidak selesai dengan penanganan dari kesehatan fisik, tapi ada persoalan lain yang perlu ditelusuri khususnya motif pelaku yang memicu tindakan keji tersebut. “Entah itu motif ekonomi, kondisi kejiwaan, kebiasaan turun-temurun atau ada motif lainnya,” ucap Nahar.

Nahar menekankan hukuman pada orang tua dapat diperberat apabila terbukti kasus ini merupakan kekerasan terhadap anak.

Ia juga mengapresiasi kepolisian setempat yang sudah mengambil tindakan cepat menahan pelaku dan membawa korban ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. “Kami berharap pendampingan kepada korban tidak putus sampai di sini, karena ketiadaan orang tua kandung menjadi tantangan sendiri dalam memastikan pengasuhan pengganti,” tutur Nahar.

Baca Juga  Presiden Joko Widodo Meninjau Vaksinasi COVID-19

Nahar berharap ada langkah-langkah bersama yang bisa diambil baik dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan pihak lainnya untuk terus memberikan pendampingan kepada korban selama proses penelusuran kasus berjalan.

Nahar mengungkapkan bahwa ketika bicara perlindungan anak, bukan cuma persoalan anak yang perlu diperhatikan. Peran orang tua seperti cara mengasuh dan cara membangun hubungan yang baik juga perlu diperhatikan untuk dapat memastikan tumbuh kembang anak terlaksana sebaik-baiknya.

Menurut Nahar, faktor lingkungan jadi penentu untuk melindungi anak. “Saya khawatir kejadian sebelumnya dengan kakaknya mungkin karena tidak terpantau lingkungan sekitar, tapi saat korban berteriak dari lingkungan sekitarnya memberikan respons cepat sehingga korban bisa selamat dan dibawa ke rumah sakit. Sosialisasi penting sebagai pembelajaran bahwa jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” tutur Nahar.

Baca Juga  Kampung Inggris Penajam Menggelar Kompetisi Berhadiah

Nahar menambahkan perlindungan anak terhadap korban pasca pulih secara fisik juga harus diperhatikan. “Apabila orang tua korban ditetapkan tersangka atau secara kejiwaan tidak cukup layak untuk mengasuh, maka pengasuhan anak melalui kerabat dan atau pengasuhan alternatif, penempatan sementara dalam rumah aman dan pendampingan psikologis untuk anak, patut diupayakan,” tutup Nahar. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed